Jejak 11 Tahun Perjalanan PEDALINDO (Perkumpulan Pedagang Jalanan Indonesia) : Menjadi Perisai, Mengawal Raksasa Ekonomi Pancasila dari Sidoarjo untuk Indonesia

Jejak 11 Tahun Perjalanan PEDALINDO (Perkumpulan Pedagang Jalanan Indonesia) : Menjadi Perisai, Mengawal Raksasa Ekonomi Pancasila dari Sidoarjo untuk Indonesia


Oleh: Junius Bram Buntaran

(Pendiri dan Ketua Umum PEDALINDO)



Menjalani waktu selama 11 tahun, bukanlah saat yang singkat, apalagi untuk sebuah karya pengabdian. Tapi bagi PEDALINDO, angka ini adalah monumen yang punya nilai keteguhan. 

Lahir dari debu jalanan dan denyut nadi pedagang kecil di Sidoarjo, Pedalindo tumbuh bukan sebagai organisasi dengan mahzab politik, melainkan sebagai manifestasi hidup dari Ekonomi Pancasila. 

Sidoarjo, adalah jantung industrialisasi regional Indonesia bagian Timur. Denyut nadi rakyat Sidoarjo yang hidup di gang-gang sempit dan terkadang gelap dan becek, di Tanggulangin, Krian, Sepanjang, Waru,  hingga pasar Delta, menjadi rahim bagi kebangkitan "Raksasa Ekonomi Kerakyatan" yang selama ini tertidur.


1. Filosofi Pertahanan: Saat Kemampuan Menjadi "Kesalahan"

Dalam perjalanan satu dekade lebih ini, kami menemui sebuah fenomena sosiologis yang paradoks. Ada sebuah pepatah kuno yang kini menemukan relevansinya:

 *"Rakyat kecil tidak pernah bersalah, namun mereka dianggap bersalah karena memiliki kemampuan yang luar biasa."*


Ketika saat PEDALINDO berhasil mengkonsolidasikan pelaku UMKM dan pedagang jalanan menjadi kekuatan yang mandiri, keberhasilan ini, justru sering kali dianggap "mengancam" status quo.

 Profesionalisme dan efisiensi yang kami tawarkan dalam memutus rantai birokrasi ekonomi yang tidak tranparan dan cenderung menyimpang, sering kali dibenturkan dengan kepentingan dan pesanan politik praktis. 

Rakyat yang mulai berdaya secara finansial tidak lagi mudah disetir oleh janji-janji musiman, dan inilah yang sering kali memicu stigma negatif dari pihak-pihak yang merasa kehilangan "panggung" ketergantungan suara.


2. Implementasi Ekonomi Pancasila Berbasis Budaya Nusantara

PEDALINDO hadir sebagai antitesis terhadap kapitalisme liberal yang meminggirkan suara grass root, akar rumput. Kami mengusung mandat konstitusi melalui pemberdayaan yang berbasis pada karakter dan budaya Nusantara: Gotong Royong.


Pilar Transformasi  Equivalen Visi Kedaulatan PEDALINDO.

Distorsi dan Tantangan Lokal = Pemberdayaan equivalen dengan memberi kail dan ekosistem, bukan sekadar ikan. Diklaim sebagai komoditas jasa individu saat kampanye = Kemandirian yang diequivalen kan dengan konsep rakyat berdaulat secara finansial dan martabat = Dianggap penghambat pola ketergantungan suara (patronase).  

Sementara itu Solidaritas dianggap  sama dengan Jaringan ekonomi lintas sekat dan golongan, yang kemudian dicoba diklaim sebagai basis massa faksi politik tertentu.

Kami memandang UMKM bukan sekadar angka statistik dalam PDRB, melainkan hakikatnya adalah pilar ketahanan nasional. 

Ekonomi Pancasila yang kami terapkan adalah ekonomi yang memanusiakan manusia, di mana teknologi dan manajemen modern digunakan untuk memperkuat, bukan menggusur, kearifan lokal.


3. Menjaga Raksasa Tetap di Jalur Rakyat

Membangunkan raksasa ekonomi yang tertidur membutuhkan keberanian dan keteguhan juga konsistensi, namun menjaga raksasa itu agar tidak tersesat ke dalam labirin "syahwat politik" membutuhkan integritas baja. 

Di Sidoarjo, kita menyaksikan betapa tipisnya batas antara dukungan tulus birokrasi dan pemanfaatan politis elektoral.

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa energi PEDALINDO adalah murni untuk penguatan struktur ekonomi akar rumput. Jika kemajuan rakyat dalam upaya mensejahterakan dirinya dianggap sebagai batu sandungan bagi karier politik seseorang, maka yang perlu dievaluasi bukanlah organisasinya, melainkan niat tulus sang pemangku kebijakan tersebut.

 "Kesalahan terbesar sebuah gerakan kerakyatan bukanlah pada kegagalannya, melainkan pada keberhasilannya yang membuat para penguasa merasa kehilangan kendali atas ketergantungan rakyat."


4. Penutup: Tetap Menjadi Perisai, Bukan Alat

Memasuki usia 11 tahun, PEDALINDO berkomitmen untuk tetap menjadi Perisai, sebagaimana filosofi namanya, yang melindungi *Kedaulatan Ekonomi Rakyat* dari hantaman kepentingan sesaat. 

Kami tidak ingin pedagang kecil, pengrajin kecil, hingga buruh tani hanya menjadi "pion" di papan catur politik yang dicampakkan setelah fajar pencoblosan usai.

Rakyat kecil Sidoarjo kini telah memiliki "kemampuan luar biasa". Kemampuan inilah yang akan membawa kita menuju Kedaulatan Ekonomi yang sebenarnya, sebuah sistem yang beradab, mandiri, dan sepenuhnya diabdikan untuk kesejahteraan bersama di bawah naungan Pancasila.











Redaksi

Redaksi Headline News Indonesia

Previous Post Next Post